![]()
POTENSI BISNIS KEHUTANAN TYYANA COFFEE DI DESA AEK SABAON DESA MARANCAR KABUPATEN TAPANULI SELATAN
Dosen Penanggung Jawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut. M.Si
Oleh:
Royhana Rahbi Rangkuti 191201182
MNH 6
![]()
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan paper ini dengan baik. Adapun judul dari paper ini adalah “Potensi Bisnis Tyyana Coffee di Desa Aek Sabaon Kecamatan Marancar Kabupaten Tapanuli Selatan”. Paper ini merupakan sebagai salah satu syarat kelulusan mata kuliah Bisnis Kehutanan.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Dr. Agus Purwoko, S.Hut. M.Si selaku dosen penanggung jawab dari Bisnis Kehutanan yang telah memberikan banyak saran dan arahan sehingga paper ini dapat penulis selesaikan dengan baik.
Penulis menyadari bahwa paper ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan paper ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih. Semoga paper ini bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Juni 2022
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sumatera Utara menjadi daerah yang cocok ditanami kopi karena memiliki daerah dataran tinggi yang banyak sehingga cocok ditanami komoditas kopi. Kopi dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 600-2000 meter di atas permukaan laut yang dingin. Kopi merupakan salah satu jenis minuman global yang dicintai oleh sebagian besar umat manusia dan memang sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Kopi juga merupakan salah satu komoditas yang dikonsumsi oleh berbagai kalangan masyarakat Indonesia baik rmaja, orang dewasa maupun orang tua. Konsumsi kopi di Indonesia pada tahun 2017 mencapai angka 4.600.000 (dalam bungkus 60kg) dan mengalami peningkatan sebesar 2,17% dari tahun sebelumnya yaitu 4.500.000 (Soleh dan Kasih, 2017).
Semakin tinggginya permintaan dan semakin berkembangnya tren minum kopi di kalangan masyarakat membuat semakin banyak pelaku bisnis yang turut mencoba untuk memasuki bisnis kedai kopi atau coffe shop. Kedai kopi merupakan salah satu tempat yang digemari oleh banyak orang, mulai dari kalangan profesional, eksekutif, hingga remaja. Di Indonesia sendiri kopi dapat dikatakan telah lama menjadi kebiasaan. Usaha Tyyana Coffee merupakan salah satu usaha kopi yang berada di Desa Aek Sabaon, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan dengan pertimbangan karena meruakan unit usaha pertanian yang mengolah langsung hasilnya sendiri, dimana usaha ini memiliki lahan komoditi kopi jenis arabika seluas 1 Ha tepat disekitaran tempat pengolahan biji kopi. Selain itu, komoditi kopi jenis arabika di usaha ini juga sudah dijual ke berbagai daerah dan negara (Windi dan Anugrah, 2021).
1.2 Tujuan
Tujuan dari Paper Mata Kuliah Bisnis Kehutanan yang berjudul “Potensi Bisnis Tyyana Coffee di Desa Aek Sabaon Kecamatan Marancar Kabupaten Tapanuli Selatan” adalah untuk mengetahui potensi bisnis Tyyana Coffee serta sejarah dan cara pengelolaan bisnis kopi nya.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Berdirinya Tyyana Coffee
Usaha Tyyana Coffee merupakan salah satu Agribisnis kopi yang berada di Desa Aek Sabaon, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan. Tyyana Coffee memiliki motto “Dari Kebun Ke Cangkir”, yang artinya memiliki lahan budidaya kopi milik sendiri dan mendirikan kedai kopi langsung di areal lahan, selain itu kopi yang telah dipanen langsung di produksi sendiri. Pemilik Tyyana Coffee ini yaitu seorang petani kopi yaitu Bapak Abdul Wahid Harahap yang sudah berusia 50 tahun. Bapak Abdul Wahid mulai menanam kopi pada tahun 2008, akan tetapi pada saat itu beliau belum mengetahui prinsip dari menanam kopi itu sendiri. Awal mula Beliau menanam kopi pada saat itu yaitu karena Bapak Wahid mengikuti sekolah lapang kopi sebanyak 3 kali seminggu, yang mana penyelenggara nya yaitu CI ( Conservation International ) dimana para peserta nya berasal dari 6 kabupaten yang ada di Indonesia. Dari 2008-2013 sejak penanaman, kopi yang ditanam tidak memperoleh hasil sama sekali atau di sebut dengan istilah “meranggas”.
Pada tahun 2013, Para mentor atau pembimbing yang berasal dari berbagai daerah dan negara seperti dari Amerika Serikat, Aceh, Jember dan daerah lainnya ke daerah Tapanuli Selatan. Kemudian, Bapak Wahid yang memiliki masalah dengan kebun kopinya yang tidak kunjung membuahkan hasil tersebut kemudian bertanya kepada para mentor “ Apakah ada jaminan saya dapat hidup makmur dari kopi? Jika iya, Saya akan mencabut semua kopi yang Saya tanam dan menanam sesuai dengan yang kalian ajarkan”. Pada saat itu mentor yang berasal dari Amerika Serikat mengatakan bahwa kopi yang ditanam oleh bapak Wahid akan lebih berhasil dari pada yang lainnya. Sehingga dari situlah Pak Wahid kemudian mulai menanam kopiny kembali. Beliau memulainya dengan menanam sebanyak 10 pohon kopi yang mana beliau kemudian mulai memperbaiki perakaran nya hingga beliau berhasil menanam kopi yang sehat dan bagus walaupun sampai melakukan 8 kali percobaan.
2.2 Pengelolaan Kebun dan Biji Kopi Tyyana Coffee
Jenis pohon kopi yang ditanam di Tyyana Coffee ada beberapa macam yaitu Sigararutang, Gayo 1, Borbon dan Usda. Jenis kopi yang di produksi Tyyana kopi adalah jenis kopi arabica (Coffee arabica). Penanaman kopi di Tyyana menerapkan sistem agroforestry. Sistem ini dilakukan karena kopi bukan merupakan tanaman monokultur sehingga harus berdampingan. Karena sebagus apapun tanah dan cara penanaman nya apabila dilakukan dengan sistem monokultur maka kopinya tetap tidak akan bisa bagus. Oleh karena itu dibuat model penanaman dengan sistem agroforestry yang terdapat tanaman pelindung dan tanaman pendamping. Tanaman lain yang ditanam sebagai tanaman pendamping yaitu sejenis tumbuhan berkayu seperti Jeruk (Citrus sp.), Cengkeh (Syzygium aromaticum), manggis (Garcinia mangostana) dan pisang (Musa paradisiaca) serta tanaman pelindung nya berupa Lamtoro (Leucaena leucocephala). Beliau melakukan hal tersebut selain untuk melakukan sistem agroforestry tetapi beliau juga ingi menjadikan kebun specialty.
Setelah kopinya dipanen, biji kopi tersebut langsung di olah. Proses pengelolaan kopi yang pertama adalah pemetikan kopi. Kedua, dilakukan penggilingan kopi untuk memisahkan kulit ceri. Ketiga, setelah dibuang kulit tanduknya dilanjutkan dengan proses perendaman atau fermentasi yaitu biji kopi dicuci dan kemudian direndam selama minimal 12 jam dengan air yang tujuannya agar dapat menyortir biji kopi yang layak dikonsumsi dan biji kopi yang rusak atau tidak layak dikonsumsi. Terdapat beberapa macam proses perendaman yang dilakukan di Tyyana Coffee, yaitu semi wash, full wash, natural process dan honey process Keempat, lalu biji kopi dicuci bersih dan dijemur hingga kadar air 12% hingga 8%. Kelima, dilakukan proses roasting atau penggongsengan yang bertujuan untuk mengeluarkan air di biji kopi dan mengeluarkan aroma yang ada pada biji kopi. Keenam, dilakukan penggilingan pada kopi. Dari keseluruhan proses pengolahan yang dilakukan maka didapatkan 4 jenis produk yang akan dijual yaitu green bean, roast bean, bubuk kopi, dan kopi yang sudah diseduh atau kopi siap minum.
2.3 Pendapatan Tyyana Coffee
Mengkonsumsi kopi sudah menjadi gaya hidup masyarakat dan bisa membuka peluang bisnis yang besar sehingga industri kopi berkembang signifikan. Tyyana Coffee yang merupakan salah satu usaha agribisnis kopi di Desa Aek Sabaon memiliki motto “Dari Kebun Ke Cangkir”, yaitu dengan memiliki lahan budidaya kopi milik sendiri dan mendirikan kedai kopi langsung di areal lahan, selain itu kopi yang telah dipanen langsung di produksi sendiri. Produk olahan biji kopi yang dihasilkan Tyyana Coffee terdiri dari 4 jenis produk, yaitu green bean, roast bean, kopi bubuk dan kopi seduh.
Green bean merupakan biji kopi mentah dari tanaman kopi, yaitu biji yang umumnya berwarna hijau dan merupakan biji kering hasil pengolahan akhir pasca panen dengan kisaran kadar air 12%-13%. Roast bean adalah kopi yang telah disangrai. Kopi bubuk adalah biji kopi yang sudah diproses dan digiling halus dalam bentuk butiran-butiran kecil, sehingga mudah diseduh dengan air panas dan dikonsumsi. Untuk harga produknya sendiri, Tyyanna Coffee mematok harga yang berbeda-beda untuk masing-masing produknya. Green bean dengan harga jual Rp.80.000/kg, roast bean dengan harga jual Rp.200.000/kg, kopi bubuk dengan harga jual Rp.300.000/kg. Untuk kopi seduh yang biasa dinikmati di kedai kopi Tyyanna Coffee, Bapak Abdul Wahid selaku pemilik usaha tidak mematok harga, namun dengan sistem pembayaran suka rela konsumen. Diharapkan dengan secangkir kopi dapat mempererat persaudaraan antara konsumen dan produsen.
Untuk pemasaran produk olahan biji kopi dalam kemasan, Tyyana Coffee sudah memasarkan produknya untuk konsumen lokal dan mancanegara secara langsung tanpa perantara agen. Produk Tyyana Coffee sudah dipasarkan ke beberapa kafe yang tersebar di wilayah pulau Sumatera, kecuali daerah Sumatera Barat. Tetapi untuk pemesanan pribadi, sudah sampai ke Sumatera Barat. Untuk pemasaran ke luar negeri, berawal dari adanya kunjungan turis ke kedai kopi Tyyanna Coffee untuk menikmati kopi seduh dan membeli produk kopi kemasan Tyyana Coffee sebagai oleh-oleh. Pengiriman dan kerja sama terus berlangsung karena ketertarikan turis akan kopi milik Tyyana Coffee. Untuk pemasaran produk ke luar negeri, Tyyana Coffee telah memasarkan produknya sampai ke benua Eropa dan Amerika, seperti Spanyol, Kuba dan Norwegia. Pada tahun 2016, Tyyana Coffee sudah dikunjungi oleh turis dari 37 negara dengan kunjungan sebanyak 42 kali, yang didominasi oleh turis dari Spanyol dan Kuba.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan pemilik usaha Tyyana Coffee yaitu bapak Abdul Wahid menyebutkan bahwa modal yang dipakai dalam menjalan kan usaha ini yakni terdiri dari Biaya Bahan Baku, Bahan Penunjang, Biaya Perawatan, dan Biaya Tenaga Kerja.
Modal yang di keluarkan perusahaan per tahun
Total jumlah modal per tahun yang dikeluarkan Tyyana Coffee
Total Modal= ( Biaya bahn baku + Biaya perawatan + Biaya tenaga kerja + Biaya Bahan
Penunjang)
Total Modal= Rp. 30.000.000 + Rp.15.000.000 + Rp.32.000.000 + Rp.32.000.000
= Rp. 99.580.000
Grafik 1. Modal Produksi Kopi di Tyyana Coffee/Tahun
1. Bubuk ( Tyyana Coffee mampu memproduksi 500 Kg dalam setahun) Pendapatan = Harga Jual/Kg x Jumlah Produksi/ Tahun
= Rp. 300.000 x 500
= Rp. 150.000.000
2. Green Been ( Tyyana Coffee mampu memproduksi 1 ton dalam setahun) Pendapatan = Harga Jual/Kg x Jumlah Produksi/ Tahun
= Rp. 80.000 x 1000
= Rp. 80.000.000
Total pendapatan yang di peroleh Tyyana Coffee per tahun yaitu :
Total pendapatan = Rp. 80.000.000 + Rp. 100.000.000 + Rp. 150.000.000
= Rp. 330.000.000
Jadi Keuntungan yang di peroleh Tyyana Coffee per tahun yaitu : Keuntungan = Jumlah Pendapatan - Modal
= Rp. 330.000.000 - Rp.99.580.000
= Rp. 230.420.000/Tahun
Grafik 1. Modal Produksi Kopi di Tyyana Coffee/Tahun
2.4 Hal yang Perlu dikembangkan di Tyyana Coffee
Dari wawancara yang dilakukan dengan pemilik Tyyana Coffee, Bapak Abdul Wahid Harahap, beliau menuturkan untuk target kedepannya ingin mendirikan tempat untuk edukasi kopi masyarakat. Pak Wahid sendiri mulai merealisasikannya dengan mulai membangun tempat pelatihan tersebut dan sudah mulai membina sejumlah kelompok tani kopi di Marancar. Serta anak-anak beliau yang ingin mengembangkan usahanya dengan mendirikan coffee shop dan pengolahan kopi menjadi produk kosmetik. Hal ini tentunya untuk meningkatkan perekonomian dan pengetahuan masyarakat tentang kopi. Hal lain yang perlu dikembangkan dari Tyyana Coffee ini adalah pemasarannya. Ada baiknya feed instagram nya lebih di perbaiki dan juga lebih aktif, mungkin dengan membuat kinten konten kekinian sehongga menarik penikmat kopi lainnya untuk datang. Bisa juga dengan melakukan sosialisasi di Tyyana Coffee mengenai bagaimana cara mengelola kopi yang baik hingga cara penyeduhan kopi nya. Mungkin dengan begitu akan banyak yang tertarik untuk berkunjung.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1. Usaha Tyyana Coffee merupakan salah satu usaha kopi yang berada di Desa Aek Sabaon, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan.
2. Produk olahan biji kopi yang diperjualbelikan di Tyyana Coffee terdiri dari 3 jenis produk, yaitu green bean, roast bean, dan kopi bubuk.
3. Tyyanna Coffee mematok harga yang berbeda-beda untuk masing-masing produknya. Green bean dengan harga jual Rp.80.000/kg, roast bean dengan harga jual Rp.200.000/kg, kopi bubuk dengan harga jual Rp.300.000/kg.
4. Keuntungan yang diperoleh oleh pemilik Tyyana Coffee per tahunnya adalah Rp. 230.420.000
5. Pendapatan Tyyana Coffee paling besar adalah dari penjualan produk berupa bubuk kopi, dengan penjualan Rp. 150.000.000 per tahunnya.
Saran
Pengembangan usaha dapat dilakukan dalam proses produksi dengan cara menambah sarana dan prasarana serta meningkatkan sumber daya manusia / tenaga kerja yang merupakan pengelola. Sehingga diharapkan dapat membuka cabang yang baru di lokasi lain yang tak kalah strategis.
DAFTAR PUSTAKA
Rahardjo P. 2012. Kopi : Panduan dan Pengolahan Kopi Arabika dan Robusta. Jakarta. Penebar Swadaya.
Simarmata FA. 2019. Analisis Nilai Tambah Buah Kopi Arabika (Kasus: Kelompok Tani Maka Jaya di Desa Naman Kecamatan Naman Teran Kabupaten Karo).
Soleh C, Kasih Y. 2017. Kedai Kopi Mountain (Perencanaan Pendirian Usaha Kedai Kopi Mountain). Journal of Food System and Agribusiness, 3(1): 89-100.
Windi Y, Anugrah SW. 2021. Blue Ocean Strategy Pada Usaha Pengolahan Kopi “ UD Tyyana Coffee” di Kabupaten Tapanuli Selatan. Jurnal Agrisep, 20(2): 321-332.